Showing posts with label Profil. Show all posts
Showing posts with label Profil. Show all posts

Shieldcroc, Nenek Moyangnya Buaya

Saturday, February 18, 2012

ISNDI - Para peneliti dari University of Missouri, Amerika Serikat, menemukan buaya prasejarah yang pernah hidup sekitar 90 juta tahun yang lalu.

Buaya yang dikenal dengan nama Shieldcroc adalah nenek moyang buaya modern.

"Aegisuchus witmeri atau Shieldcroc yang ditemukan di Afrika adalah nenek moyang paling awal dari buaya," kata Casey Holliday, Asisten Profesor Anatomi di University of Missouri School of Medicine, seperti dikutip dari Science Daily.

Ia mengatakan Shieldcroc adalah penemuan terbaru dari spesies buaya yang hidup di Cretaceous akhir.

Menurut Holliday, periode ini merupakan bagian dari era Mesozoic, yang disebut sebagai zaman dinosaurus. Namun, banyak penemuan-penemuan terbaru yang menyebut era tersebut sebagai zaman buaya.

Berdasarkan analisis terhadap pembuluh darah jaringan parut pada tulang, buaya tersebut memiliki struktur menyerupai perisai di atas kepalanya. Bagian penyok dan benjolan pada tulang menunjukkan pembuluh darah mengirimkan darah pada gundukan kulit yang melingkar, sesuatu yang belum pernah ditemukan pada buaya.
Shieldcroc memiliki tengkorak lebih datar dibandingkan spesies buaya lainnya. Tengkorak datar ini membuat kepala Shieldcroc menjadi terlalu tipis untuk memudahkannya bergulat dengan dinosaurus.

Para peneliti menyatakan reptil kuno ini kemungkinan ahli menangkap ikan karena memiliki rahang tipis.

"Kami percaya Shieldcroc menggunakan wajah panjangnya sebagai alat perangkap ikan," kata peneliti Nick Gardner dari Marshall University.
"Buaya itu menunggu sampai ikan berenang di depannya tanpa curiga. Kemudian saat berada cukup dekat, Shieldcroc hanya membuka mulut dan langsung melahap ikan itu."

Holliday bersama Nick Gardner, rekan penelitiannya, mengatakan spesimen tersebut memiliki kepala sepanjang 1,5 meter dan panjang totalnya 9,1 meter.

Sumber

Ouasim Bouy: Mampukah Pemuda Ajax Ini Bersinar Di Juventus Seperti Edgar Davids?

Monday, February 6, 2012


Ouasim Bouy - Netherlands (Getty Images)
Getty Images
Salah satu pergerakan transfer yang dilakukan Juventus pada hari penutupan bursa musim dingin lalu adalah merekrut Ouasim Bouy dari Ajax Amsterdam.

Mungkin banyak pihak baru mendengar nama Bouy ketika transfer itu secara resmi diumumkan. Tumbuh dan besar di Amsterdam, Bouy secara wajar menekuni ilmu sepakbola di akademi klub paling terkenal di kota itu, Ajax. Ajax merekrutnya dari sebuah klub amatir lokal bernama Zeeburgia, klub yang sama tempat berkembangnya pemain berbakat lain, seperti Adam Maher, Luciano Narsingh, dan Lorenzo Burnet.

Kontrak profesional pertama Bouy didapat saat berusia 16 tahun pada 2009. Bakat besar yang dimiliki langsung menjadikannya andalan tim yunior Belanda. Sebelum diboyong Juventus, Bouy menjadi kapten serta motor utama lini tengah timnas Belanda U-19. Sayangnya, bakat besar tersebut seolah belum membuatnya dipercaya Ajax untuk memulai debut di tim senior. Faktor inilah yang menjadikan Bouy menunda negosiasi kontrak baru pada 2011. Padahal, rekan seangkatan seperti Davy Klaassen dan Lesle de Sa sudah memulai jam terbang di Ajax.

PROFIL SINGKAT | Ouasim Bouy
Usia

Tanggal lahir

Posisi
Karier klub
18

18 Juni 1993

Gelandang

Zeeburgia, Ajax
Menurut pemantauan Stefan Coerts dari GOAL.com Belanda, Bouy memiliki kemampuan tak ubahnya gelandang muda yang melejit bersama PSV Eindhoven tahun lalu, Kevin Strootman. Sama-sama kidal, Bouy memiliki kemampuan melepas umpan yang istimewa serta tembakan yang keras. Tidak hanya itu, Bouy memiliki visi yang sedikit sekali dimiliki pemain seusianya. Pengambilan posisinya bagus, begitu pula dengan pengambilan waktu.

Salah satu kekurangan Bouy adalah dia tidak memiliki kecepatan. Namun, itu diyakini tidak akan menghambat pergerakan Bouy karena pemain seperti Rafael van der Vaart pun menjadi salah satu pemain dengan rekor penampilan terbanyak untuk Oranje.



Bouy | Pemain berbakat asal Amsterdam sekaligus kapten timnas Belanda U-19
Kepindahan Bouy ke Juventus juga tidak lepas dari sisi kontroversi. Wim Jonk, eks pemain Ajax yang diserahi tugas mengawasi akademi klub, menganggap keputusan Bouy keliru mengingat usianya masih sangat muda. Kompatriot Bouy seperti Eljero Elia saja kesulitan memperoleh kesempatan tampil untuk Juventus. Harapan Bouy lahir sebagai penjelmaan Edgar Davids yang baru boleh saja muncul, tetapi fans Juve harus ingat butuh waktu bagi sang pemain untuk mencapai ke sana.

Sumber

Biografi Zinedine Zidane, Sang Maestro Sepakbola

Tuesday, January 31, 2012



Zinedine Yazid Zidane dilahirkan di Marseille, Prancis, 38 tahun silam. Ia adalah salah satu pemain bola paling revolusioner di dunia. Sarat prestasi baik di tingkat klub maupun timnas, Zidane adalah fenomena di eranya.

Sejak kecil, bakat bal-balan Zidane sudah terlihat. Sang ayah kerap menjumpai lampu-lampu di kediamannya pecah. Zidane yang kala itu berusia 4 tahun sangat gemar menendang-nendang bola hingga memecahkan beberapa perabotan rumah.


Kedua orang tua Zidane adalah imigran asal Aljazair yang pindah ke Prancis untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Lingkungan masa kecil Zidane di daerah imigran pinggiran kota Marseiila yang keras tidak bisa dibilang menyenangkan.


Zidane bergabung dengan klub junior lokal AS Saint-Henrie pada usia 10 tahun. Kemudian ia mengikat kontrak junior dengan klub SO Septèmes-les-Vallons. Selama 4 tahun Zidane bermain untuk klub tersebut, hingga seorang pencari bakat bernama Jean Varraud meyakinkannya untuk mengikuti seleksi dan pelatihan di akademi yunior klub Cannes FC, sebuah klub sepakbola yang cukup bergengsi di Prancis. Zidane pun menyanggupinya tanpa ekspektasi apa-apa. Ia hanya ingin memperdalam ilmu sepakbolanya, ia pun berangkat ke Cannes dan hanya berencana tinggal disana selama enam pekan.


Namun kepiawaiannya mengolah bola membuat direktur klub Cannes jatuh hati. Alih-alih berlatih selama enam pekan, Zidane langsung mendapatkan kontrak profesionalnya di klub tersebut untuk empat tahun ke depan.


Zidane mencetak gol pertamanya untuk Cannes pada 8 februari 1991. Gol tersebut membuat dirinya dihadiahi sebuah mobil Renault Clio oleh direktur klub Cannes. Musim pertama Zidane menjadi pemain inti di Cannes adalah masa kejayaan klub tersebut. Mereka lolos kualifikasi Piala UEFA.


Namun musim kedua Zidane di Cannes tidak terlalu baik. Ia pun hijrah ke Bordeaux dengan kontrak selama empat tahun. Pada awalnya, Zidane kesulitan beradaptasi di Bordeaux, karena statusnya sebagai pemain muda dan harus bersaing dengan senior-seniornya di pentas tertinggi liga Prancis. Namun ia membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pemain berkelas. Tak butuh waktu lama untuk Zidane menjadi motor penggerak Bordeaux. Di akhir tahun pertama bersama Bordeaux, pemain yang akrab dipanggil Zizou ini berhasil lolos kompetisi piala UEFA Intertoto 1995/1996. Hal ini membuat Zidane kembali merasakan atmosfer laga kelas Eropa untuk kali kedua setelah sebelumnya juga lolos ke ajang tersebut bersama Cannes.


Setelah empat musim bersama Bordeaux, Zidane kembali pindah klub. Kali ini tidak main-main. Yang memboyongnya adalah raksasa Italia, Juventus. Zidane pindah ke klub berjulukan Si Nyonya Tua itu dengan nilai transfer sebesar 3Juta Pundsterling. Jumlah yang sangat tidak menggambarkan kualitasnya sebagai pemain.


Hanya butuh waktu sebentar untuk beradaptasi, Zidane kembali bersinar di Juventus. Sederetan gelar diraihnya bersama Si Nyonya Tua, mulai dari Juara European Super Cup 1996 , Intercontinental Cup 1996, SuperCopa Italiana 1997, Scudetto pada musim 1996/1997 dan 1997/1998, dan finalis liga champion pada tahun 1997 dan 1998.


Bersama Juventus, Zidane juga meraih penghargaan individu, seperti Golden Ball pada tahun 1998, dan dinobatkan menjadi The Best Player of the Year (Pemain Terbaik Dunia) oleh FIFA pada 1998 dan 2000.


Perjalanan karir Zidane tidak berakhir di tanah Pizza. Pada tahun 2001, klub kapitalis nan megah dari Spanyol, Real Madrid, meminangnya. Kali ini dengan harga yang luar biasa. 46 juta pundsterling digelontorkan Real untuk mendatangkan sang maestro. Harga yang sepadan dengan performanya!


Di Madrid, Zidane bersinar lebih benderang dan memimpin klub tersebut menuju kejayaan. Bersama rekan-rekannya, Raul Gonzales, Roberto Carlos, Iker Casilas, David Beckham, dan Luis Figo, Madrid kala itu dijuluki Los Galacticos. Tim dari galaksi lain yang tanpa tanding. Satu gol fenomenal Zidane adalah golnya ke gawang tim Jerman Bayer Leverkusen pada final Liga Champion tahun 2001. Madrid menang dengan skor 2-1, dan bagi sebagian pengamat yang menyaksikan, gol tersebut berbau supranatural.


Kiprah Zidane di klub berbanding lurus dengan di timnas. Debut awalnya bersama tim nasional Prancis dimulai pada tahun 1994. Kala itu, Zidane sukses mengkonversi dua sepak pojok menjadi gol dengan kepalanya. Prancis pun bermain imbang 2-2 melawan Ceko berkat Zidane. Pertandingan tersebut dikenang sebagian publik sepakbola Prancis, karena Prancis dalam keadaan tertinggal 2 gol terlebih dahulu dan Zidane masuk sebagai pemain pengganti yang menyamakan kedudukan!


Zidane resmi menjadi playmaker tim Les Bleus menggantikan Eric Cantona setelah yang bersangkutan diskors selama 1 tahun pada tahun 1995 karena menganiaya seorang fans. Namun Prancis yang digerakkan Zidane tidak mampu lolos ke putaran final Euro Cup 1996 karena kalah dari Ceko.


Namun Zidane membalasnya dengan gemilang, pada tahun 1998, sentuhan-sentuhan magisnya membawa Prancis menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya. Tak hanya itu, 2 tahun kemudian Prancis juga menjuarai Euro Cup dan menjadi tim kedua yang berhasil memenangkan Piala Dunia dan Piala Eropa berturut-turut setelah Jerman Barat pada tahun 1974 dan 1976.


Namun pada era milenium, kedigdayaan Zidane mulai sirna digerogoti usia. Pada Piala Dunia 2002, cedera paha membuatnya tak bisa tampil membela Prancis di babak penyisihan. Hasilnya, Prancis tersingkir secara memalukan di putaran awal tersebut tanpa mencetak sebiji gol pun. Pada tahun 2004, Prancis juga harus melepas mimpi menjuarai Piala Eropa setelah dikandaskan Yunani di perempat final. Zidane yang terpukul memutuskan mundur dari tim nasional Prancis.


Pada ajang Piala Dunia 2006, Prancis harus terseok-seok di putaran pra-Piala Dunia tanpa hadirnya Zidane. Namun akhirnya sang maestro memutuskan untuk kembali membela tim Ayam Jantan setelah mendapat ‘bisikan gaib’ di tengah malam. Hasilnya pun ajaib, Prancis yang tidak diunggulkan berhasil lolos ke babak final Piala Dunia tersebut dan berhadapan dengan Italia. Meski pada babak awal berjuang untuk beradaptasi dengan kondisinya, Zidane menunjukkan kegemilangannya sebagai pemain bintang di putaran final. Mulai dari memukul Spanyol 3-1, menaklukkan Brasil 1-0 dan memulangkan Portugal dengan skor 1-0 juga.


Dengan penampilan yang memuncak, banyak pihak mengharapkan Zidane akan gantung sepatu dengan kejayaan, mengangkat trofi Piala Dunia untuk kali kedua.


Namun sayang, pertunjukan Prancis menjadi antiklimaks. Zidane melakukan kesalahan fatal pada babak puncak tersebut. Tanpa sebab yang jelas (hingga saat ini), ia menanduk bek Italia, Marco Materazzi. Kejadian di babak tambahan waktu menit 110 tersebut membuat wasit Horacio Elizondo asal Argentina terpaksa memberinya kartu merah. Tanpa Zidane, Prancis bermain kehilangan arah, namun berhasil menahan skor 1-1 hingga babak adu penalti.


Pertandingan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Italia dengan skor penalti 5-3.


Setelah kejadian tersebut, Zidane pensiun total dari dunia sepakbola. Ia kini aktif sebagai duta sepakbola untuk negara-negara miskin dan sering melakukan pertandingan amal untuk mencari dana bagi negara-negara miskin. Zidane juga beberapa kali tampil di pertandingan futsal.


Sebagai pemain, Zidane adalah Playmaker tanpa tanding, ditunjang postur ideal, ia tidak pernah kehabisan akal untuk mengalirkan bola. Permainan Zidane adalah murni bakat ditambah kecerdasan. Ia tidak melulu mengandalkan kecepatan kaki dan lari, namun hampir seluruh pemain yang pernah menjadi lawannya sepakat bahwa dribble Zidane adalah magis. Di masa jayanya ia hampir tidak pernah kehilangan bola dari kakinya. Selain itu, kreativitas Zidane juga cemerlang. Ia menciptakan gerak tipu yang sampai saat ini sering menjadi tolok ukur kepiawaian seorang pemain bola, yakni ‘Marseille Roullette’. Ia juga dikenal sebagai pemain yang memanfaatkan betul keadaan di sekitarnya untuk melakukan passing (contoh : genangan air). Hingga saat ini, publik sepakbola Prancis, bahkan dunia, masih mencari sosok pengatur serangan elegan seperti Zidane.


Zidane telah menginspirasi banyak orang bahwa sepakbola bukanlah permainan keras yang tidak bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Sepakbola adalah olahraga indah dan anggun yang sewaktu-waktu dapat menjelma menjadi seni, dengan adanya pemain-pemain seperti dirinya.


Merci, Zizou!


Profil singkat Zinedine Zidane:


Nama lengkap : Zinedine Yazid Zidane


Nama Panggilan : Zizou


Lahir : Marseille, Perancis, 23 Juni 1972


Posisi : Gelandang Menyerang / Playmaker


Status : menikah


Istri : Veronique Zidane


Karir:


Klub


AS Cannes, 6 gol dari 65 kali main (1988-1992)

Girondins Bordeaux, 32 gol dari 157 kali main, (1992-1996)
Juventus F.C., 29 gol dari 190 kali main (1996-2001)
Real Madrid, 46 gol dari 202 kali main (2001-2006)

Timnas


Prancis, 31 gol dari 108 kali main, (1994-2006)


Penghargaan :


Pemain Terbaik Eropa (1998)

Pemain Terbaik Dunia (1998, 2000, dan 2003)
Pemain Terbaik Piala Dunia (2006)

Iswadi Idris: Legenda Timnas yang Ditakuti Asia

Tuesday, January 17, 2012



KOMPAS
Iswadi Idris (tengah) dalam aksinya menjebol gawang lawan.
MESKI pendek, tapi serbabisa dan produktif. Lebih 100 gol sudah dia cetak. Itulah salah satu kisah manis sepak bola Indonesia di masa lalu atas nama Iswadi Idris.
Membicarakan kebesaran sejarah sepakbola Indonesia, tak bisa melupakan era akhir 1960-an sampai akhir 1970-an. Saat itu Indonesia menjadi kiblat Asia. Dan, salah satu tokoh kebesaran itu adalah Iswadi Idris. Pemain yang dijuluki Boncel karena pendek (tinggi 165 cm) ini, termasuk pemain paling berbakat yang dimiliki Indonesia.
Karena kehebatannya pula, dia termasuk pemain yang ditakuti Asia. Meski pendek, Iswadi pemain ulet dan cerdas. Dia juga serbabisa. Mengawali karier sebagai bek kanan, tapi dia juga sering dipasang sebagai gelandang kanan. Bahkan di akhir kariernya di timnas tahun 1980, dia malah diplot sebagai sweeper.
Hebatnya, dia bisa menjalani semua posisi itu dengan baik. Bersama Sutjipto Suntoro, Jacob Sihasale dan Abdul Kadir, dia punya popularitas besar di Asia. Itu semua berkat permainan mereka yang memang luar biasa. Bahkan, empat sekawan ini dinilai sebagai penyerang tercepat.
Di masa itu, sepakbola Indonesia sangat dihormati Asia. Bahkan, bersama Burma (sekarang Myanmar, Red), Indonesia merupakan kekuatan utama. Apalagi, timnas Indonesia saat itu sudah biasa bertemu tim-tim besar seperti PSV Eindhoven, Santos, Fiorentina, Uruguay, Sao Paulo, Bulgaria, Jerman, Uni Soviet dan masih banyak lagi.
“Jepang, Korea Selatan dan tim Timur Tengah belum punya cerita. Kekuatan besar dimiliki Indonesia dan Burma,” jelas Iswadi dalam wawancara di PSSI tahun lalu.
Tentang berbagai posisi yang dia jalani, Iswadi mengaku bisa menikmatinya. “Posisi yang sering saya perankan adalah sayap kanan. Saya suka menusuk ke gawang lawan. Entah sudah berapa gol yang saya ciptakan, yang jelas lebih dari 100 kalau dijumlah dari awal sampai akhir karier,” jelas Iswadi Idris yang kini menjadi pengurus PSSI itu.
Bakat yang dimiliki Iswadi memang istimewa. Dia tak hanya punya kecepatan lari, tapi juga teknik sepakbola yang baik. Selain itu, visi permainan Iswadi juga luas, ditopang kemampuannya memimpin rekan-rekannya. Wajar jika dia segera dijadikan kapten timnas sejak awal 1970-an sampai 1980.
Menjadi pemain sepakbola yang lama membela timnas dan dikenal luas sampai seantero Asia, sebenarnya tak pernah dipikirkan Iswadi. Awalnya dia malah menyukai atletik, karena punya kecepatan lari. Baru pada 1961, dia membaca temannya memperkuat Persija Junior di koranPedoman Sport. Iswadi yang sejak umur 4 tahun tinggal di Kramat Lima, Jakarta Pusat, kemudian tertarik bermain bola. Awalnya bergabung dengan Merdeka Boys Football Association (MBFA), kemudian ke Indonesia Muda (IM).
“Kebetulan rumah saya dekat Taman Ismail Marzuki (TIM). Dulu masih berupa kebon binatang. IM berlatih di Lapangan Anjing, tempat melatih anjing. Akhirnya saya pindah ke klub itu,” katanya.
Iswadi pun semakin menikmati sepakbola, bahkan serius menggelutinya hingga menjadi salah satu legenda Indonesia. “Sepakbola hobi yang berharga. Dulu kami bermain ingin terkenal, juga demi pengabdian kepada bangsa. Jadi semangatnya berlebihan,” terangnya.
Selama kariernya sebagai pemain sepakbola, bukan sebuah gol indah yang membuat Iswadi Idris kepikiran sampai sekarang. Justru kegagalannya mencetak gol. Itu terjadi tahun 1972, ketika Indonesia menjamu Dynamo Kyiv dalam partai uji coba di Senayan.
“Kiper Dynamo adalah penjaga gawang terbaik abad ini, Lev Yashin. Saya bertekad menaklukkannya agar menjadi kenangan terindah. Kesempatan ada, tapi tak saya manfaatkan. Itu penyesalan yang masih terpikir sampai sekarang,” tutur Iswadi.
Waktu itu, dia menerima umpan terobosan dari Sutjipto. Dalam keadaan bebas dengan posisi yang sama, dia biasanya menendang bola ke gawang dan hampir selalu gol. “Tapi karena karisma Lev Yashin, saya seperti tak melihat ada celah untuk mencetak gol. Saya justru mengumpankan bola ke Jacob Sihasale. Dia tak siap, karena biasanya saya menendang sendiri dan gol. Habis pertandingan, pelatih Djamiat Dahlar pun kecewa karena saya menyia-siakan kesempatan,” sesalnya lagi.

DIISUKAN KENA SUAP


Menjadi bintang besar memang menyenangkan. Tapi, tak selamanya selalu penuh puja-puji. Demikian juga yang dialami Iswadi. Dia dan rekan-rekannya pernah syok karena diisukan terkena suap, saat membela Indonesia di babak Pra Piala Dunia 1978 lawan Singapura.
Pada pertandingan di Singapura, 9 Maret 1977, Indonesia secara mengejutkan dikalahkan tuan rumah 0-4. Padahal Singapura tim kecil dibanding Indonesia. Sebelumnya, koran-koran Indonesia dan Singapura meniupkan isu bahwa Iswadi dan kawan-kawannya menerima suap.
“Oleh sebuah koran, saya diceriterakan menyelinap lewat jendela keluar dari hotel pemain. Katanya saya mendatangi Karpak, sebuah nightclub di Singapura, dan menerima suap. Itu tak pernah terjadi. Saya dan teman-teman tak pernah menerima suap. Sueb Rizal (pemain seangkatannya, Red) tahu persis saya tak ke mana-mana, karena saya sekamar dengannya. Saya kira, isu suap sengaja diembuskan pihak Singapura agar mental kami turun dan tim Indonesia kacau,” tuturnya.
Kasus itu ternyata berbuntut panjang. Seminggu kemudian, Iswadi memperkuat Persija di Piala Marahalim di Medan. “Kebetulan, sebagian besar pemain timnas Indonesia memperkuat Persija. Begitu kami masuk lapangan, langsung dlempari benda keras oleh penonton. Kami mencoba tabah meski dituduh menerima suap,” jelasnya.
Untungnya, Persija tampil memukau. Setelah mengalahkan juara bertahan dua kali (Australia), kemudian menundukkan Thailand. Para penonton Medan pun akhirnya kembali memberikan dukungan penuh, apalagi PSMS Medan sudah teringkir.
“Di final lawan Jepang, kami seperti membawa nama Indonesia. Penonton memberi dukungan penuh dan kami menang 1-0. Itu pengalaman yang menyenangkan, sekaligus sangat memuaskan. Kami bisa menunjukkan sebagai pemain yang disiplin, meski dihantam isu suap,” ceritanya.
Iswadi sendiri tampil memukau di Piala Marahalim. Tapi, itu hanya salah satu pembuktian atas kehebatannya. Selama 12 tahun kariernya di timnas (1968-1980), dia ikut membuat sepakbola Indonesia disegani di Asia. Sebutannya boleh Boncel, tapi prestasinya mengangkasa.

Data Iswadi
Nama lengkap:
 Iswadi Idris
Julukan:
 Boncel, Bos
Lahir:
 Banda Aceh (Indonesia), 18 Maret 1948
Posisi:
 Gelandang/bek kanan
No. Kostum:
 13
Karier klub:
 MBFA (1957-1961), IM Jakarta (1961-1968, 1970-1974), Pardedetex (1968-1970), Western Suburb Australia (1974-1975), Jayakarta (1975-1981), Persija (1966-1980)
Karier timnas:
 1968-1980
Prestasi:
 Juara TIM Cup (1968), Merdeka Games (1969), Pesta Sukan (1972), Anniversary Cup (1972), Pemain Terbaik Piala Marahalim 1973

Vicky Shu Si Seksi dan Cantik (Full Pic)

Sunday, January 15, 2012

Vicky Shu Memang Cantik dan Seksi - Vicky Shu Memang Seksi buanget, bisa lihat saat Vicky Shu manggung, di tv aja tapi boi hehe...

Penyanyi yang baru melejit namanya Vicky Shu tidak hanya menjadi bintang di acara televisi tapi jga menjadi bintang di dunia maya, banyak sekali foto seksi Vicky Shu tersebar di internet, hal ini bisa dijadikan sebagai hal2 yang berbau negatif tentunya. contoh Foto seksi Vicky Shu seperti terpampang di bawah ini




Vicky Veranita Yudhasoka
Perempuan Cilacap, 08 Juli 1987
Hobby : baca buku, makan, nonton DVD dan travelling

Film Favorit:The Wizard Of Oz

Berat Badan :48 kg
Tinggi Badan :170 cm
Biografi :
PERSONAL

Vicky Veranita Yudhasoka atau biasa dikenal dengan nama Vicky Shu ini lahir di Cilacap, 8 Juli 1987. wanita cantik ini merupakan seorang penyanyi Indonesia berbakat yang juga merupakan salah satu finalis Miss Indonesia 2007 mewakili Provinsi Jawa Tengah.

KARIR

Tahun 2010, ia merilis album solo debutnya bertitel DRINK ME, dengan lagu andalannya Mari Bercinta 2. Wajahnya kerap menghiasi acara-acara musik televisi. Selain bernyanyi,Vicky Shu juga mampu memainkan gitar.


Selain berbakat di bidang musik, pada tahun 2007, Vicky Shu menyabet gelar sebagai finalis kulit terindah di ajang Miss Indonesia 2007 sebagai duta dari daerah Jawa Tengah. Pada tahun 2010 ia dinobatkan menjadi "Wajah Popular Juli 2010 Introvert Beauty Queen".


Selain itu, Vicky Shu yang tinggi semampai dengan kulit indahnya ini ternyata adalah juga mempunyai profesi sebagai seorang pengusaha sekaligus sebagai designer sepatu high heels dengan merk Syu Shu. Sepatu Syu Shu yang juga dijual secara online ini, pemasarannya sudah merambah ke mancanegara seperti Malaysia, Inggris dan bahkan di beberapa negara yang memesan dalam jumlah besar untuk dipasarkan kembali dinegaranya.

PROFILE:Stadion Highbury, Keagungan dalam Kesederhanaan

Saturday, January 14, 2012

Stadion Higbury, dulu menjadi markas kebesaran Arsenal, sebelum pindah ke Stadion Emirates.

Bagi masyarakat London, bahkan Inggris secara umum, Stadion Highbury memiliki banyak arti. Meski rancangannya sederhana dan ukurannya tak terlalu besar, stadion di London Utara ini tetap memiliki citra keagungan yang cukup sakral. Terlebih lagi bagi pemain, Highbury bak rumah terindah yang sulit ditinggalkan.

Lapangan di Highbury tergolong paling kecil di Inggris (101 meter x 67 meter), membuat kedekatan suporter dan pemain begitu erat. Ikatan emosinya pun begitu besar. Seolah, bermain di stadion itu seperti berinteraksi dengan penonton secara konstan.

Wajar jika para pemain yang pernah membela Arsenal saat masih bermarkas di stadion itu merasa memiliki kekuatan lebih jika tampil kandang. Selain karena hipnotis penonton atau juga sugesti sejarah, mereka jadi merasa memiliki energi lebih.

"Highbury sejajar dengan Stade de France di Perancis. Bermain di stadion ini memiliki hubungan yang begitu aneh dan membangkitkan semangat. Ada gairah besar, komitmen, dan kehangatan antara pemain dan suporter. Saya akan selalu merasakan hal itu sampai akhir hayat nanti," kata mantan pemain "The Gunners" asal Perancis, Emmanuel Petit.

"Benar. Beruntung Arsenal punya Highbury. Setiap tampil kandang, Arsenal sulit dikalahkan. Ada kekuatan ekstra yang begitu nyata di sini," timpal eks "The Gunners" lain, Niall Quinn.

Terutama bagi Arsenal, Highbury memang citra agung yang sulit dilupakan. Selama bermarkas di stadion ini, "The Gunners" meraih 73 gelar dari berbagai kompetisi dan turnamen di sepanjang sejarahnya. Raihan prestasi yang cukup menakjubkan. Maka dari itu, kebesaran Arsenal tak pernah dipisahkan dari stadion ini.

Stadion ini juga pernah melambungkan kebanggaan dan harga diri bangsa Inggris. Pada periode 1920 sampai 1961, Highbury menggelar 12 pertandingan timnas Inggris. Kebanyakan partai persahabatan. Namun, yang paling berkesan tentu pada 1934, ketika timnas Inggris menantang juara Piala Dunia tahun itu, Italia. Dengan gagah, Inggris mengalahkan Italia 3-2. Sepak bola Inggris pun bisa bertepuk dada. Seolah mereka memproklamasikan diri sebagai juara dunia tanpa mahkota.

Tak bisa disangkal jika kemudian Highbury begitu sakral dan agung, meski bangunan stadion ini termasuk sederhana. Ukurannya juga tak sebesar stadion di Inggris lainnya, seperti Old Trafford atau Wembley. Pada 1999 sampai 2000, Arsenal sempat mengingkari Highbury dan bermain di Wembley untuk pertandingan Liga Champions. Hasilnya justru buruk. Dari enam partai hanya menang dua kali, seri sekali, dan kalah tiga kali. Maka dari itu, kemudian Arsenal pun tetap di Highbury dalam kompetisi apa pun.

Itu karena Highbury begitu matang dan dewasa sebagai stadion. Dibangun pada 1913, Highbury menjadi bagian dari catatan sejarah, baik sejarah sepak bola maupun sejarah umum bagi Inggris. Di sini pula keselamatan negara pernah dipertaruhkan.

Pada Perang Dunia II, Inggris sempat kecolongan dan diserang bom oleh musuh-musuhnya. Sebuah bom sempat menghantam beberapa wilayah di London, salah satunya menghancurkan teras utara Highbury.

Justru karena letaknya yang begitu strategis dalam strategi perang, Highbury justru akhirnya digunakan Pemerintah Inggris sebagai pusat Air Raid Precaution (ARP). Ini adalah semacam lembaga pencegahan serangan udara dari lawan. Stadion ditutup untuk sepak bola, tetapi tetap memiliki makna dan peran. Arsenal pun terpaksa harus meminjam stadion musuh bebuyutannya (Tottenham Hotspur), yakni White Hart Lane.

Setelah perang, stadion ini kembali bersinar. Bahkan, tak hanya sepak bola yang digelar di sini. Pernah dipakai pula untuk baseball bahkan tinju. Yang terkesan tentu perebutan gelar dunia kelas berat antara Muhammad Ali lawan Henry Cooper pada 1966.

Dua versiArsenal awalnya bermarkas di Manor Ground, Plumstead, London Timur. Namun, karena tempat itu juga bagian dari areal olahraga dan rekreasi sekolah setempat, klub terpaksa harus mencari tempat baru. Arsenal harus pindah cepat.

Highbury menjadi pilihannya. Pembangunan stadion pun dilaksanakan, tetapi agak terburu-buru. Dana yang dikeluarkan pun hanya 125.000 poundsterling. Cukup sederhana untuk ukuran waktu itu, tetapi ternyata lumayan memuaskan. Sebab, antusias penonton cukup tinggi.

Didesain arsitek Archibald Leitch, stadion ini awalnya hanya memiliki tribun tunggal di sisi timur. Tiga sisi lainnya hanya areal penonton tanpa kursi dan atap. Nyaris seperti stadion di tingkat kecamatan. Itu versi pertama Highbury.

Awal 1930, dengan desain arsitek Claude Waterlow Ferrier dan William Binnie, tribun barat pun didirikan. Stadion ini pun menjadi tampak megah. Tahun 1932, renovasi itu selesai sudah dengan biaya hanya 45.000 poundsterling. Desain kedua arsitek itu dilanjutkan kembali pada 1936. Tribun timur bikinan Leitch dihancurkan dan diganti baru. Keseluruhan stadion pun selesai dengan menghabiskan biaya 130.000 poundsterling.

Di tribun selatan diberi jam dinding besar sehingga sisi itu terkenal dengan Clock End. Highbury pun jadi tampak gagah, meski bentuknya kotak. Justru karena itu, Highbury memiliki kekhasannya.

Renovasi kecil-kecilan sebenarnya sering dilakukan. Namun, bentuk lama tetap bertahan sehingga kewibawaan Highbury tetap terjaga. "Stadion ini dibangun pada awal abad ke-20. Namun hingga kini kewibawaannya tak kalah dari stadion megah lainnya," puji eks pemain Arsenal, Frank McLintock.

Bentuk boleh sederhana dan tak terlalu besar. Namun, maknanya begitu agung, penuh wibawa dan sejarah indah pula.
Sumber

Ini Dia Profil Si Bebek Alexandre Pato

Wednesday, January 4, 2012




Alexandre Rodrigues da Silva (lahir 2 September 1989), umumnya dikenal sebagai Alexandre Pato atau hanya Pato, adalah pemain sepakbola profesional Brasil yang bermain sebagai striker untuk klub Serie A Italia AC Milan dan tim nasional Brasil. Julukannya, Pato, mengacu pada tempat kelahirannya, Pato Branco, Atau Juga Di Sebut Si "bebek", terjemahan literal dari pato dalam bahasa Portugis.

Dia mulai bermain sepak bola Tertutup di kota kelahirannya Saat berumur 3 Tahun. Segera, kemampuannya menjadi dikenal di seluruh negara bagian selatan Brasil Parana karena si Pato Ini Terampil dalam mencetak goal dan berbakat soal skill dan technique dan, setelah banyak dipuji oleh para manajer,Si Pato pergi ke Porto Alegre, Rio Grande do Sul, Dan bermain untuk Club Gremio . Ia Berpaling dari Gremio, klub yang ia telah mendukung sejak kecil ke Rival Gremio Yaitu Internacional dan meyakinkannya untuk bermain untuk Internacional. Meskipun kedua klub menjadi musuh pahit, orang tua Pato meyakinkan anak mereka untuk beralih kesetiaan-Nya. Pato mengatakan dalam sebuah wawancara dengan program televisi Brasil, Esporte Espetacular bahwa pada usia 11, ia patah lengannya dan sambil memeriksa luka-luka, dokter menemukan tumor di lengan dan takut lengan harus diamputasi. Sebuah operasi yang berhasil dan tumor Pato Pun hilang.

Sejak tahun 2007, Pato telah bertunangan dengan aktris Brasil Sthefany Brito. Mereka saling berpisah pada Januari 2009 karena ketidakmampuan mereka untuk menjaga hubungan jarak jauh Namun,. Mereka kembali bersama, dan pada 7 Juli 2009, mereka menikah dalam sebuah upacara di Istana Copacabana di Rio de Janeiro. Namun, perkimpoian itu berlangsung kurang dari sepuluh bulan, dan pasangan ini bercerai pada tanggal 21 April 2010, dengan Brito mengutip berpesta konstan Pato sebagai alasan untuk perpecahan mereka. Pada tahun 2010, ia memiliki asmara singkat dengan Miss Brasil 2010, Debora Lyra. Pada tahun 2011, Pato telah dikaitkan sebagai berada di asmara dengan Barbara Berlusconi, anak dari Silvio Berlusconi.

BIODATA

Full name :Alexandre Rodrigues da Silva
Date of birth :2 September 1989 (age 21)
Place of birth :Pato Branco, Paraná, Brazil
Height :1.81 m (5 ft 11 1⁄2 in)[1]
Playing position :Striker

Years Team Apps (Gls)
2006–2007 Internacional 10 (6)
2007– Milan 111 (52)

National team
2007 Brazil U20 12 (8)
2008 Brazil U23 6 (2)
2008– Brazil 18 (6)

Gelar

Club

National Team

Individual

  • Brazilian U-20 Championships Top-Scorer – 2006
  • Brazilian U-20 Championships Most Valuable Player – 2006
  • Sendai Cup Top-Scorer – 2006
  • Sendai Cup Most Valuable Player – 2006
  • Serie A Player Of The Month – January 2009
  • Tuttosport Golden Boy of the Year – 2009
  • Serie A Young Footballer of the Year – 2009
  • Italian Football Oscars Best Young Player – 2009
VIDEO AKSI:


Sumber

SPESIAL: Dua Ribu Tujuh Puluh Lima Pertandingan Di Bawah Sir Alex Ferguson

Saturday, December 31, 2011

Sir Alex Ferguson, Manchester united
Getty
Sejak kali pertama merapat ke Old Trafford pada tahun 1986, hingga akhir tahun 2011 kiprah manajer Sir Alex Ferguson bersama Manchester United belum berhenti.

Sederet prestasi mentereng berhasil dipersembahkan Ferguson kepada United selama dirinya menjabat sebagai pelatih di Old Trafford. Dan bukan hanya trofi juara saja yang dia dapat, namun berbagai penghargaan individu juga berhasil disabetnya.

Dan di hari ulang tahun Sir Alex Ferguson yang ke-70 hari ini (31/12). KAMI menyajikan laga-laga penting, statistik dan juga prestasi-prestasi yang pernah diraih oleh Ferguson.

Berikut beberapa laga penting sang gaffer bersama si Setan Merah.


LAGA PERDANA: Oxford 2-0 Manchester United | November 1986

Pertandingan ini bisa menjadi ukuran berapa lama Ferguson menjadi penguasa di Old Trafford karena Manor Ground tidak lagi eksis dan Oxford pernah keluar dari liga hingga kembali lagi.

Pada laga ini tuan rumah memang pantas menang berkat gol penalti John Aldridge yang disempurnakan aksi Neil Slatter.

LAGA KESEPULUH: Manchester United 4-1 Newcastle United | Januari 1987



Norman Whiteside

Peter Jackson membuka kemenangan di awal laga bagi si Setan Merah dengan sundulan sambil menjatuhkan diri hingga bola menembus gawang sendiri.

Norman Whiteside memperbesar keunggulan meski The Magpies bisa mempertipis ketertinggalan. Frank Stapleton dan Jesper Olsen menambah pesta bagi fans. Laga ini menjadi kenangan bagi Kevin Moran yang terpaksa meninggalkan lapangan karena tidak sengaja menelan lidah sendiri.

LAGA Ke-50: Manchester United 2-1 Bury 1 (November 1987)
Piala Liga putaran keempat, United beraksi dengan kondisi para pemain kelelahan namun Brian McClair dan Norman Whiteside masih bisa menghadirkan kemenangan meski tim tampil buruk.

Di putaran selanjutnya United tersingkir namun bisa menempati peringkat kedua klasemen. Di saat ini pula Ferguson menyadari pentingnya perubahan besar di Old Trafford.

LAGA KE-100: Manchester United 2-0 Nottingham Forest | Desember 1988

Mark Hughes
Era pra-kejayaan mulai terlihat. Fledgings dan Ralph Milne menyumbang gol.

Jim Leighton berada di bawah mistar gawang, Mark Hughes dibawa pulang dari Barcelona dan pemain remaja Lee Sharpe ditempatkan di posisi bek sayap.


LAGA KE-250: Manchester United 0-0 Liverpool | Oktober 1991

Peter Schmeichel

Dua trofi sudah ditangan dan si raksasa dari Denmark Peter Schmeichel berdiri di antara dua tiang gawang. Tim juara United semakin memperlihatkan bentuknya meski di musim ini mereka harus merelakan status raja di Inggris terbang ke Leeds United.

LAGA KE-500: Manchester United 2-1 Manchester City (Februari 1996)
United sedang berlari kencang. Haus gelar juara bisa dituntaskan. 'Class of 92' tidak lama lagi akan membuktikan diri memiliki potensi berjaya di semua kompetisi bersama Eric Cantona.

Pada laga ini, Sharpe menyumbang gol yang ditambah oleh sang legenda dari Prancis.

LAGA KE-750: Manchester United 5-1 Anderlecht | September 2000
Andy Cole
Andy Cole mencetak hat-trick untuk memulai petualangan baru United di Eropa. Kesuksesan meraih treble dengan mengalahkan Bayern Munich di Nou Camp baru 16 bulan berlalu.

LAGA KE-1000: Manchester United 2-1 Lyon | November 2004
Ruud van Nistelrooy

Posisi Ferguson di antara para manajer hebat sudah tergaransi akan tetapi kejayaan di masa depan masih bisa diharapkan. Tetapi sejatinya saat ini United di ambang kejatuhan.

12 bulan setelah Ruud van Nistelrooy mencetak gol indah melalui kepalanya di laga ini, United tersingkir di babak grup Liga Champions, Roy Keane dilepas dan Vodafone berhenti sebagai sponsor utama.

LAGA KE-1250: Manchester United 1-0 Everton | Januari 2009

Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo menjadi bintang pada laga ini dengan sebuah gol dari titik putih. Banyak pihak memprediksi era baru United sedang dalam perjalanan.

Di musim ini United nyaris mengulang sukses treble tetapi mereka harus menghadapi Barcelona yang sedang mengalami peningkatan tajam dan pada akhirnya meraih predikat salah satu tim terbaik sepanjang sejarah sepakbola.


TABEL KIPRAH SIR ALEX FERGUSON HINGGA USIA 70

Tim Negara Dari Hingga Rekor
P M SKLGM GKSG Menang%
East Stirlingshire Skotlandia 1 Jun 1974 20 Okt 1974 17 9 2 6 36 28 +8 52.94
St. Mirren Skotlandia 21 Okt 1974 31 Mei 1978 169 74 41 54 292 222 +70 43.79
Aberdeen Skotlandia 1 Agu 1978 5 Nov 1986 459 272 105 82 914 374 +540 59.26
Skotlandia Skotlandia 10 Sep 1985 13 Jun 1986 10 3 4 3 8 5 +3 30.00
Manchester United Inggris 6 Nov 1986 Masih aktif 1,420 843 328 249 2,603 1,270 +1333 59.37
Total 2,075 1,201 480 394 3,853 1,899 +1954        57.88

SIR ALEX FERGUSON & PRESTASI

Arsitek tim asal Skotlandia itu memenangkan sederet gelar juara mulai mengangkat trofi Liga Skotlandia bersama Aberdeen di tahun 1980 hingga gelar ke-12 Liga Primer Inggris bersama Manchester United pertengahan 2011 lalu.

Berikut daftar panjang yang diraih Sir Alex bersama klub maupun pencapaian individual.

Sebagai Pemain


1962-63 Gelar juara Divisi Dua. St Johnstone.
1969-70 Gelar juara Divisi Dua. Falkirk.

Sebagai Manajer

1976-77 Juara Divisi II Liga Skotlandia. St. Mirren.
1979-80 Juara Liga Skotlandia. Aberdeen.
1981-82 Piala Skotlandia. Aberdeen.
1982-83 Piala Skotlandia, Piala Winners. Aberdeen.
1983-84 Liga Skotlandia, Piala Skotlandia, Piala Super Eropa. Aberdeen.
1984-85 Liga Skotlandia. Aberdeen.
1985-86 Piala Skotlandia, Liga Skotlandia. Aberdeen.
1989-90 Piala FA. Manchester United.
1990-91 Piala Winners, Charity Shield (Juara Bersama). Manchester United.
1991-92 Piala Liga, Piala Super Eropa. Manchester United.
1992-93 Liga Primer Inggris. Manchester United.
1993-94 Liga Primer Inggris, Piala FA, Charity Shield. Manchester United.
1994-95 Charity Shield. Manchester United.
1995-96 Liga Primer Inggris, Piala FA. Manchester United.
1996-97 Liga Primer Inggris, Charity Shield. Manchester United.
1997-98 Charity Shield. Manchester United.
1998-99 Liga Champions, Liga Primer Inggris, Piala FA. Manchester United.
1999-00 Liga Primer Inggris, Piala Intercontinental. Manchester United.
2000-01 Liga Primer Inggris. Manchester United.
2002-03 Liga Primer Inggris. Manchester United.
2003-04 Piala FA, Community Shield. Manchester United.
2005-06 Piala Liga. Manchester United.
2006-07 Liga Primer Inggris. Manchester United.
2007-08 Liga Champions, Liga Primer Inggris, Community Shield. Manchester United.
2008-09 Liga Primer Inggris, Piala Dunia Antarklub, Piala Liga, Community Shield. Manchester United.
2009-10 Piala Liga. Manchester United.
2010-11 Liga Primer Inggris, Community Shield. Manchester United.
2011-12 Community Shield. Manchester United.

Penghargaan Individu

1983 Officer of the Order of the British Empire (OBE).
1994 Pelatih terbaik Liga Primer Inggris.
1995 Commander of the Order of the British Empire (CBE).
1996 Pelatih terbaik Liga Primer Inggris.
1997 Pelatih terbaik Liga Primer Inggris.
1999 Knight Bachelor, Pelatih terbaik Liga Champions, BBC Sports Personality of the Year Coach Award, BBC Sports Personality of the Year Team Award, Pelatih terbaik versi IFFHS, Onze d'Or Coach of the Year, Pelatih terbaik Liga Primer Inggris, LMA Manager of the Year.
2000 Pelatih terbaik Liga Primer Inggris.
2001 BBC Sports Personality of the Year Lifetime Achievement Award.
2002 Hall of Fame sepakbola Inggris.
2003 Pelatih terbaik Liga Primer Inggris.
2007 Onze d'Or Coach of the Year, PFA Merit Award, UEFA Team of the Year, Pelatih terbaik Liga Primer Inggris.
2008 Hall of Fame Eropa, UEFA Team of the Year, Pelatih terbaik Liga Primer Inggris, LMA Manager of the Year.
2009 Pelatih terbaik Liga Primer Inggris.
2011 LMA Special Merit Award, Pelatih terbaik Liga Primer Inggris, LMA Manager of the Year.

Premier League Manager of the Month (26): Agustus 1993, Oktober 1994, Februari 1996, Maret 1996, Februari 1997, Oktober 1997, Januari 1999, April 1999, Agustus 1999, Maret 2000, April 2000, Februari 2001, April 2003, Desember 2003, Februari 2005, Maret 2006, Agustus 2006, Oktober 2006, Februari 2007, Januari 2008, Maret 2008, Januari 2009, April 2009, September 2009, Januari 2011, Agustus 2011.

Daftar Lengkap Akun Resmi Jejaring Sosial David Villa

Wednesday, December 28, 2011


Apa ada fans dari David Villa di sini? Jika ada, apa Anda ingin berkesempatan lebih mendekatkan diri dengan kehidupan sang idola Anda itu? Mudah saja caranya, simak info berikut ini.

Demi menjalin kedekatan dan tetap memudahkan para penggemar untuk tetap saling sapa dengannya, El Guaje sempat mengumumkan empat akun jejaring sosial resmi miliknya lewat video yang direkamnya dan ia unggah di YouTube.

Berikut ini alamat jejaring sosial resmi David Villa dan juga video yang diunggah striker Barcelona tersebut:
  • facebook.com/DavidVillaJugador
  • twitter.com/Guaje7Villa
  • flickr.com/davidvilla
  • youtube.com/davidvilla7com

 

Profil Basel, Klub Penjegal Langkah MU

Wednesday, December 7, 2011


Klub asal Swiss, FC Basel secara mengejutkan lolos ke babak 16 besar Liga Champions sebagai runner-up grup C. Mereka sukses menundukkan MU dengan skor 2-1 di St Jakob Park, Kamis 8 Desember 2011 dini hari WIB. Basel merupakan salah satu klub tersukses di Swiss. Klub yang didirikan pada 15 November 1893 ini berhasil menjuarai Swiss Super League sebanyak 14 kali, terbanyak ketiga setelah Grasshopper Club (27 kali) dan Servette (17 kali).
Masa keemasan Basel terjadi akhir tahun 1960an dan awal 1970an. Mereka menjuarai 7 Liga Swiss antara 1967 hingga 1980. Prestasi tertinggi mereka di Piala Champions terjadi pada musim 1973-74, yakni menembus perempatfinal.
Tahun 1980an menjadi tahun terberat bagi Basel. Mereka bertahun-tahun gagal lolos ke kompetisi Eropa sampai akhirnya terdegradasi pada 1987.
Basel akhirnya kembali bangkit pada tahun 2000an. Mereka kembali ke kasta teratas Liga Swiss, menjuarai Liga pada 2002 yang merupakan pertama kalinya sejak 22 tahun terakhir. Setelah itu mereka merebut 5 gelar lainnya pada 2004, 2005, 2008, 2010, dan 2011.
Klub yang kini dilatih Heiko Vogel ini selalu tampil di kompetisi Eropa sejak musim 1999-2000. Prestasi tertinggi Basel adalah mencapai final Piala Intertoto 2001-02, saat itu mereka ditaklukkan Aston Villa di partai puncak.
Basel lalu sukses melaju ke babak kedua putaran grup Liga Champions 2002-03 dan mencapai perempatfinal Piala UEFA 2005-06. Mereka tercatat sebagai tim Swiss terbanyak yang tampil di Liga Champions (total 4 kali) dan satu-satunya klub Swiss yang lolos langsung ke babak penyisihan grup Liga Champions.

Sumber

PROFIL Tim Peserta Piala Dunia Antarklub FIFA: Kashiwa Reysol

Tuesday, December 6, 2011

Kashiwa Reysol players - 2011 J-League Championship
SEJARAH SINGKAT
Akar dari klub Kashiwa Reysol adalah Hitachi Soccer Club, yang didirikan di daerah pedesaan Tokyo pada 1940. Mereka pindah kandang pada 1986 dan masuk ke jajaran tim papan atas pada 1995 dengan ditangani pelatih legendaris Jepang, Akira Nishino. Bersamanya Kashiwa memenangi Piala J-League 1999 dan dua kali menjadi juara tiga di periode berikutnya.

Di tahun 2005, Reysol sempat terdegradasi. Baru di tahun ini mereka bisa bangkit dan kalah dua kali dari 36 laga di bawah asuhan Nelsinho. Di akhir musim, gelar juara berhasil disegel.
TAKTIK & GAYA BERMAIN
Bergabungnya Nelsinho membawa angin segar bagi Reysol. Pelatih asal Brasil itu mendepak sejumlah pemain veteran dan memperkenalkan wajah-wajah baru di timnya. Hasilnya, kombinasi pemain muda dan pemain lama menghasilkan komposisi yang produktif dalam mencatat hasil positif.

Peran dua pemain Latin, Leandro Domingues dan Jorge Wagner, melengkapi tim. Kombinasi kedua menghasilkan 26 gol dan banyak assists di tahun 2011.

Jika duo Latin itu menguasai lini tengah, untuk lini serang Nelsinho mengandalkan kemampan pemain lokal seperti Hiroki Sakai. Pemain ini bisa memaksimalkan setiap kesempatan untuk menjadi gol.

Nelsinho memaksimalkan formasi 4-4-1-1. Hebatnya, tidak ada pemain yang sangat diandalkan di tim ini karena Nelsinho hampir membagi rata porsi bermain pemainnya. Rotasi pemain dijalankan dengan baik.
BINTANG | Leandro Domingues
Jika tidak gagal, pemain Brasil di Jepang biasanya cepat meninggalkan J-League dan hijrah ke negara Arab karena tawaran finansial yang lebih baik. Tapi tidak demikian dengan Leandro Domingues. Meski sukses dalam beberapa musim terakhir, dia masih betah bersama Kashiwa Reysol.

Leandro tidak ditunjang postur tubuh yang baik, tapi kemampuan dalam mencari celah posisi dan akurasi tendangan bebas membuatnya menjadi salah satu penyerang terbaik di liga. Leandro kemudian juga dinobatkan sebagai pemain terbaik J-League tahun ini.
SIMBOL | Hideaki Kitajima
Sudah 12 tahun Kitajima menghabiskan karirnya di Kashiwa. Dan selama itu juga posisinya di lini belakang tak tergantikan, termasuk pemain muda yang baru bergabung sekali pun.

Pemain berusia 33 tahun itu menjadi saksi mata langsung saat Reysol memenangi gelar Piala J-League 1999, membantu timnya bangkit dari dua pengalaman terdegradasi dan kini siap menghadapi tantangan besar bermain di Piala Dunia Antarklub 2011.
PEMAIN MUDA | Hiroki Sakai
Sudah tampil memesona sejak awal musim, Sakai memiliki kecepatan dan agresivitas di jantung pertahanan Reysol. Jika tampil bagus di Piala Dunia Antarklub, bukan tidak mungkin tahun 2012 dia sudah hijrah dan bermain di Eropa. Penghargaan pemain muda terbaik Jepang 2011 menegaskan kualitasnya.
TIGA FAKTA UNIK

  • Turnamen Piala Dunia Antarklub 2011 akan menjadi turnamen internasional pertama Kashiwa Reysol. Sementara Liga Champions Asia tahun depan akan menjadi yang kedua.
  • Nelsinho sudah 24 kali menangani tim sejak 1985, dengan Corinthians menjadi tim yang paling sering diarsitekinya. Di Jepang, Nelsinho sempat menangani Verdy Kawasaki (sekarang Tokyo Verdy) dan Nagoya Grampus.
  • Suporternya terbilang fanatik, tapi saat pertandingan, hanya sedikit yang menyaksikan ke stadion. Tahun ini, rata-rata kursi yang terisi di stadion mereka hanya 11,197 tempat duduk.
STARTING XI
Formasi 4-4-1-1 masih akan jadi andalan Nelsinho, setidaknya untuk laga playoff melawan Auckland City.

Sugeno
Kondo, Masushima, Hashimoto, Sakai
Otani, Leandro, Wagner, Barada
Tanaka
Kudo

PROFIL Tim Peserta Piala Dunia Antarklub FIFA: Monterrey

Monterrey, 2010-11 Concacaf Champions League
Monterrey, 2010-11 Concacaf Champions League
SEJARAH SINGKAT
Didirikan tahun 1945, tim ini banyak mendapat perhatian publik karena terlibat dalam sebuah kecelakaan yang mengambil nyawa sejumlah pemain setelah pertandingan pertama mereka.

Setelah keluar dari divisi dua di tahun 1956, mereka promosi ke divisi utama empat tahun kemudian. Tapi baru di tahun 1986 mereka bisa memenangi gelar liga pertama.

Dalam delapan tahun terakhir, Monterrey bisa menikmati banyak kesuksesan, memenangi tiga kejuaraan domestik di Liga Meksiko.

Di final Liga Champions Concacaf 2010/11, Monterrey juara lewat gol tunggal Humberto Suazo di Rio Tinto Stadium, setelah meraih hasil 2-2 di leg pertama di Estadio Tecnologico.
TAKTIK & GAYA BERMAIN
Victor Manuel Vucetich identik dengan sepakbola yang enak dilihat. Dia memainkan taktik dengan banyak menguasai bola dan terus menekan lawan, dengan atau tanpa bola.

Monterrey memiliki pakem pertahanan dengan tiga pemain, dengan dua gelandang melapis di sektor tengah. Dua gelandang ini yang menjadi penyeimbang tim, baik dalam bertahan mau pun menyerang.

Dalam menyerang, Monterrey lebih banyak mengandalkan kreativitas pemain sayap dengan banyak bergerak dan melepas umpan silang. Untuk menjebol gawang lawan, Suazo dan Aldo de Nigris menjadi andalan.
BINTANG | Humberto Suazo
Pemain asal Cili itu sudah menjadi pemain legenda di Monterrey dengan 70 gol lebih dalam empat tahun terakhir. Sementara untuk Cili, Suazo menjadi salah satu pemain terbaik. Di tahun 2006, ia menjadi pencetak gol terbanyak IFFHS di tahun 2006.
IKON KLUB | Luis Ernesto Perez
Pemain berposisi gelandang berusia 30 tahun itu tampil di Olimpiade 2004, dua Piala Konfederasi dan Piala Dunia 2006. Luis Ernesto Perez merupakan pemain gelandang berbakat, berpengalaman dan memiliki peran penting dalam menghubungkan lini belakang dan lini serang.
PEMAIN MUDA | Hiram Mier
Di usia 22 tahun, Mier sudah tampil penuh untuk Meksiko. Dia menjadi andalan di sektor belakang bersama veteran Rafael Marquez, Hector Moreno dan Francisco Rodriguez juga Efrain Juarez. Mier vital dalam mengantar Monterrey menjadi juara Liga Champions Concacaf.
TIGA FAKTA MENARIK
  •  Legenda Portugal Eusebio bermain untuk Monterrey di tahun 1975, mencetak satu gol untuk tim dalam sepuluh laga.
  • Gelar juara Monterrey di tahun 1986 tidak diakui hingga pertengahan 1990. Ketika Liga Meksiko berubah menjadi format menjadi lebih pendek di tahun 1996, Monterrey secara resmi memunculkan gelar juara mereka.
  • Simbol M pada badge jersey tim bukan hanya mewakili Monterrey, tai juga bukit Cerro de la Silla yang bisa terlihat dari stadion mereka. Bukit tersebut memiliki pemandangan yang menartik dan membentuk huruf M.
STARTING XI
Memainkan sepakbola menyerang dengan formasi 3-4-3. Di lini depan, De Nigris, Delgado dan Suazo sudah membuktikan menjadi trio salah satu paling maut di sepanjang sejarah sepakbola Meksiko.

Orozco
Mier, Basanta, Chavez
Zavala, Ayovi, Perez, Meza, Cardozo
Suazo, Delgado, De Nigris

PROFIL Tim Peserta Piala Dunia Antarklub FIFA: Al Sadd

AFC Champions League,Al Sadd
WSG
Piala Dunia Antarklub 2011, atau dalam istilah internasionalnya FIFA Club World Cup, sudah semakin dekat masa penyelenggaraannya. Semua tim yang ambil bagian mulai bersiap untuk menghadapi kompetisi elit ini, dengan target juara tentunya.

Turnamen yang digelar pada 8 hingga 18 Desember di Jepang itu menghadirkan klub-klub papan atas di setiap konfederasi. Tim yang populer antara lain Barcelona dan Santos, sementara lima tim lain kurang begitu dikenal.

GOAL.com ingin ambil bagian dalam turnamen ini dengan memperkenalkan kepada Anda siapa saja tim yang terlibat di turnamen ini.
SEJARAH SINGKAT
Al Sadd pertama dibentuk pada Oktober 1969 oleh sekelompok mahasiswa yang tak ingin bergabung dengan klub yang sudah ada di Qatar. Kesederhanaan klub tercermin dari kostum mereka yang hanya hitam putih. Tapi Al Sadd juga bisa mendominasi sepakbola Qatar di tahun 70 dan 80an dan menjadi tim Arab pertama yang bisa memenangi Liga Champions Asia pada 1989.

Tapi di tahun 90-an, grafik prestasi Al Sadd merosot tajam dengan tak meraih satu gelar juara pun. Baru di milenium yang baru mereka bisa mengakhiri masa paceklik mereka. Saat ini koleksi gelar mereka adalah 14 gelar juara Liga, 13 tropi turnamen Prince Cup, 12 gelar Sheikh Jassem Cup dan lima tropi Qatar Crown Prince Cup.

Tim dengan julukan Al-Zaeem bisa melangkah ke Piala Dunia Antarklub 2011 setelah menang di final Liga Champions melawan Jeonbuk Motors.
TAKTIK & GAYA BERMAIN
Jorge Fossati punya catatan prestasi tersendiri bersama Al Sadd. Setidaknya tujuh tropi juara sudah dipersembahkannya sejak menangani tim di tahun 2006.

Hal itu tak bisa dilepaskan dari permainan menyerang yang dimasukkan ke tim. Klub juga memberikan dukungan dengan mendatangkan pemain berkarakter menyerang, seperti Nadir Belhadj, Mamadou Niang of Senegal, dan Khalfan Ibrahim.
BINTANG | Abdul Kader Keita
Keita kenyang pengalaman bermain di Eropa. Pemain berusia 30 tahun itu sempat membela Lille, Lyon dan Galatasaray. Bersama timnas Pantai Gading, Keita mencatat 60 caps dan sempat ambil bagian di Piala Dunia 2006 dan 2010.

Dengan karakter yang dimilikinya, ditambah kecepatan, akurasi tendangan dan kemampuan mengelabuhi pemain belakang lawan, Al Sadd pun menjadi sangat bergantung padanya.
IKON KLUB | Wezam Rizik
Merupakan pemimpin tim yang emosional, tapi inspiratif bagi rekan satu timnya, Wesam Rizik juga menjadi gelandang berbakat dan menjadi penyeimbang tim sekaligus penghubung antara belakang dan depan.

Rizik memiliki kemampuan passing yang akurat, ditambah memiliki visi yang bagus dalam melihat permainan.
PEMAIN MUDA | Khalfan Ibrahim
Pemain Terbaik Asia 2006 Khalfan Ibrahim memiliki reputasi yang lebih baik dari ayahnya, Ibrahim Khalfan. Tentunya karena kemampuan dan bakat yang lebih baik. Saat kualifikasi Piala Dunia bersama Qatar, Ibrahim sudah mencetak tiga gol. Performa apiknya di final Liga Champions juga menjadi salah satu alasan dia bisa meraih tropi juara.
TIGA FAKTA MENARIK

  • Al Sadd menjadi klub Qatar pertama yang ambil bagian di Piala Dunia Antarklub.
  • Duel antara Al Sadd dan Esperance akan menjadi duel ketiga antara negara Arab. Sebelumnya sempat ada duel melawan Arab Saudi Nassr melawan Raja dari Maroko di tahun 2000 dan Al Ittihad, wakil Arab Saudi, melawan Al Ahly dari Mesir di 2005.
  • Al Sadd menjadi tim pertama yang lolos ke fase knockout Liga Champions Asia setelah memulai kompetisi sebagai peserta playoff. Untuk bisa menjadi juara, Al Sadd meraih 15 kemenangan.
STARTING XI
Fossati akan memainkan formasi 4-3-3, formasi yang mengantar timnya bia meraih gelar juara Liga Champions Asia.

 Mohamed Saqr
Nasser Nabeel, Abdulla Koni, Lee Jung-Soo, Nadir Belhadj
Mohammed Alyazidi, Wesam Rizk, Talal Al-Blouchi
Abdul Kader Keita, Mamadou Niang, Khalfan Ibrahim